Tsunami efek

Kejadian tsunami selat sunda hari minggu malam (23/12) menyisakan banyak kesedihan. Tagar keprihatinan tsunami seperti #PrayForAnyer, #PrayForLampung, #PrayForBanten, #PrayForIndonesia menjadi trending topik, hampir tiap hari semua media membahasnya. Ditambah hari ini (26/12) tepat 14 tahun pasca tsunami Aceh.

Ternyata efek tsunami selat sunda sampai juga ke daerah kami Pangandaran. Bukan efek fisik, tapi ke pengunjung. Meski pantai tetap ramai wisatawan, tetap saja tidak seramai liburan akhir tahun sebelumnya. Sepertinya sebagian pengunjung lebih mengalihkan liburan bukan ke Pantai. Salah seorang teman saya yang berdomisili di Bandung pun demikian, mengabari “tadinya mau ke Pangandaran, tapi malas karena ada peringatan jangan mendekati pantai” Hah, peringatan? Peringatan dari Hongkong? Hehe… tsunaminya di pantai utara piraku pantai selatan ikut tsunami. Jika tsunami karena erupsi gunung Krakatau, masa sih sampai ke Pangandaran? Padahal sejak kejadian tsunami 3 hari lalu hingga saat ini, kami warga Pangandaran sama sekali tidak terpengaruh kabar tersebut. Nelayan tetap beraktivitas seperti biasa. Hotel, pedagang, dan pelaku kegiatan wisata lainnya sama sekali tidak terpengaruh.

Penyebab Tsunami?

Belum diketahuinya penyebab tsunami selat sunda yang hingga saat ini cukup mengherankan. Ternyata teknologi yang ada, jangankan mencegah, untuk mengetahui penyebabnya saja masih belum bisa akurat. BMKG hingga saat ini masih mengkaji penyebab pasti tsunami selat sunda kemarin. Tsunami yang bukan disebabkan gempa tektonik. Dugaan paling banyak dikemukakan pakar, tsunami disebabkan erupsi anak Gunung Krakatau. Tapi ada juga yang mencurigai tsunami kali ini merupakan efek dari bocornya pipa gas di selat sunda tahun 2017 lalu. Jika penyebab yang kedua benar, bisa lebih berbahaya.

Pasca tsunami

Kejadian tsunami selat sunda mengingatkan saya pada kejadian tsunami Pangandaran 2006 dengan korban meninggal lebih dari 600 orang. Pasca tsunami warga cenderung panik, trauma, dll. Sangat rentan dengan isu-isu, terutama isu tsunami susulan. Seperti yang pernah saya alami pasca tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 lalu, isu tsunami susulan sering kali berhembus. Diantaranya prediksi tsunami 20 September 2006. Meski ada yang menjelaskan tsunami tidak bisa diprediksi, tetap saja masyarakat banyak yang percaya. Para tetangga mempersiapkan diri, mengamankan barang-barang berharga, menyimpan pakaian dan barang lain di daerah yang lebih tinggi, dll. Pas hari H, beberapa warga tidak bekerja, sebagian bahkan mengungsi. Saya ke sekolah seperti biasa, beberapa siswa tidak sekolah karena takut tsunami. Ketika jam istirahat, salah seorang siswa teriak-teriak “cai naek, cai naek (air naik, air naik)”, semua siswa berhamburan pulang, kami guru-guru juga keluar ruangan. Salah seorang guru bahkan langsung pulang. Setelah di cek ternyata bukan tsunami, tapi rumah tetangga sekolah kebakaran, warga pada teriak “cai, cai….”.

Bukan waktu itu saja kepanikan menerpa kami, setiap kali ada gempa, warga pasti panik. Itu terus berulang sampai beberapa tahun pasca tsunami. Beberapa kali kejadian gempa malam hari, warga keluar rumah, bahkan mengungsi ke daerah lebih tinggi. Baru kembali ke rumah setelah di rasa aman atau setelah menerima informasi tidak berpotensi tsunami. Pernah juga saya mengalami salat berjamaah di masjid bubar gara-gara gempa ketika salat.

Baca juga : Gempa saat Salat

Penuh Hikmah

Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa, begitu pun tsunami Pangandaran yang kami alami. Bantuan berlimpah, hampir semua nelayan diberi perahu gratis, perumahan gratis, sembako numpuk, bahkan saking banyaknya bantuan untuk keperluan sehari-sehari seperti: sabun mandi, sabun cuci, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dll., sebagian warga tidak membeli perlengkapan tersebut hingga hampir 2 tahun. Ya, hampir 2 tahun. Infrastruktur seperti: masjid, sekolah, jalan, jembatan, segera diperbaiki. Bahkan karena berlimpahnya bantuan, beberapa tahun pasca kejadian ada warga yang berucap “hayang tsunami deui”. Nauzubillah.

Sekarang, Banten & Lampung sedang berduka. Kita berduka. Trauma yang dialami mereka yang terdampak tsunami pastinya tidak akan jauh beda dengan trauma yang pernah kami alami. Semoga keadaan segera pulih, kembali seperti semula.

Yakin, semua bisa lebih baik dari sebelumnya. Yakin, ada hikmah besar dibalik musibah. Selalu berupaya bersikap tenang, tabayun terhadap informasi apapun.

Advertisements